BEM KRISTIANI SELURUH INDONESIA GELAR FESTIVAL HARI TANI NASIONAL 2026: SWASEMBADA PANGAN JALAN MENUJU KEDAULATAN BANGSA


Jejak Hukum | Jakarta
, 24 September 2026 — Badan Eksekutif Mahasiswa Kristiani Seluruh Indonesia (BEM Kristiani Seluruh Indonesia) menggelar Festival Hari Tani Nasional 2026 dengan mengangkat tema “Swasembada Pangan adalah Jalan Menuju Kedaulatan Bangsa”, Kamis (24/9/2026).


Kegiatan yang berlangsung di Ruang VICON Lantai 2, Universitas Kristen Indonesia, pada pukul 13.00–15.00 WIB tersebut diikuti sekitar 80 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan peserta undangan.


Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai bentuk penghormatan terhadap bangsa dan negara sekaligus membangun semangat kebangsaan sebelum memasuki rangkaian diskusi.


Koordinator Pusat BEM Kristiani Seluruh Indonesia, Charles, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Hari Tani Nasional harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa dan generasi muda terhadap persoalan pangan, pertanian, serta posisi strategis petani dalam pembangunan nasional.


Menurutnya, mahasiswa dan generasi muda tidak cukup hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga perlu mengambil bagian dalam menghadirkan gagasan dan kontribusi bagi pembangunan sektor pertanian serta ketahanan pangan Indonesia.


SWASEMBADA PANGAN DAN KEDAULATAN BANGSA


Diskusi menghadirkan tiga pemateri, yakni Fathammubina, Korpresnas Forkom BEM/DEMA PTAI Se-Indonesia; Jeremi Sianturi, Koordinator Bidang Pertanian BEM Kristiani Seluruh Indonesia; serta Frimus Wistito, Ketua Bidang DPP GMNI.


Fathammubina menekankan bahwa swasembada pangan tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan Indonesia menghasilkan pangan, tetapi juga menyangkut kemampuan bangsa dalam menentukan dan mengendalikan masa depan pangannya sendiri.


Ia menilai upaya menuju kedaulatan pangan membutuhkan sejumlah langkah strategis, mulai dari perlindungan terhadap petani, mempertahankan lahan pertanian, memperkuat kapasitas produksi, pemanfaatan teknologi, hingga mempersiapkan generasi muda untuk terlibat dalam sektor pertanian.


“Pangan berdaulat, petani bermartabat, rakyat sejahtera, Indonesia berdaulat,” ujar Fathammubina.


Sementara itu, Koordinator Bidang Pertanian BEM Kristiani Seluruh Indonesia, Jeremi Sianturi, menempatkan Hari Tani Nasional sebagai momentum untuk menegaskan posisi penting petani sebagai salah satu fondasi ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia.


Dalam pemaparannya, Jeremi membahas berbagai upaya pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong agenda swasembada pangan, antara lain melalui peningkatan produksi, optimalisasi lahan dan irigasi, penyediaan pupuk dan benih, modernisasi pertanian, serta penguatan kesejahteraan petani.


Menurut Jeremi, swasembada pangan tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, tetapi juga berkaitan dengan upaya mengurangi ketergantungan terhadap negara lain dan memperkuat kemandirian Indonesia.


“Petani kuat, pangan kuat, Indonesia berdaulat,” tegasnya.


GENERASI MUDA DIDORONG TERLIBAT DALAM AGENDA PANGAN NASIONAL


Pemateri ketiga, Frimus Wistito, Ketua Bidang DPP GMNI, menyampaikan bahwa swasembada pangan merupakan salah satu jalan menuju kedaulatan bangsa.


Ia menilai Indonesia memiliki kekayaan alam dan potensi sumber daya yang besar sehingga perlu terus memperkuat kemampuan produksi pangan nasional. Potensi produksi di berbagai daerah, menurutnya, perlu dioptimalkan agar mampu menopang kebutuhan masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar negeri.


Frimus juga menyampaikan apresiasi terhadap agenda swasembada pangan yang menjadi salah satu program pemerintah Presiden RI Prabowo Subianto. Ia berharap kebijakan tersebut dapat mendorong Indonesia menuju kemandirian dan kedaulatan pangan.


Menurut Frimus, swasembada pangan tidak seharusnya dipahami sebatas persoalan ketahanan pangan, tetapi perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, termasuk pemenuhan kebutuhan masyarakat dan penguatan kemampuan bangsa dalam mengelola potensi sumber daya yang dimiliki.


Ia juga mendorong kaum muda, khususnya mahasiswa, untuk mengambil bagian dalam mendukung sekaligus mengawal pembangunan sektor pangan dan pertanian.


“Indonesia Berdaulat bukanlah slogan. Indonesia Berdaulat adalah cita-cita revolusioner yang harus diciptakan,” tegas Frimus.


TUJUH POIN PENTING HASIL DISKUSI


Dari rangkaian diskusi, terdapat sejumlah poin penting yang menjadi perhatian bersama. Pertama, swasembada pangan merupakan bagian penting dalam upaya memperkuat kedaulatan nasional.


Kedua, petani memiliki posisi strategis dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia. Ketiga, perlindungan petani, keberlanjutan lahan pertanian, ketersediaan pupuk dan benih, irigasi, serta peningkatan produktivitas menjadi bagian penting dari pembangunan sektor pertanian.


Keempat, modernisasi dan pemanfaatan teknologi pertanian perlu terus dikembangkan guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi.


Kelima, swasembada pangan juga berkaitan dengan upaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar negeri. Keenam, generasi muda dan mahasiswa perlu mengambil peran melalui gagasan, inovasi, dan kontribusi nyata terhadap pembangunan pertanian nasional.


Ketujuh, kedaulatan pangan perlu diarahkan pada terciptanya kondisi di mana pangan tersedia, petani memperoleh kesejahteraan, dan masyarakat mendapatkan manfaat pembangunan secara luas.


Kegiatan Festival Hari Tani Nasional 2026 ditutup dengan foto dan video bersama seluruh peserta dan pemateri serta penyampaian jargon bersama:


“SWASEMBADA PANGAN ADALAH JALAN MENUJU KEDAULATAN BANGSA!”


Melalui kegiatan tersebut, BEM Kristiani Seluruh Indonesia menempatkan Hari Tani Nasional sebagai momentum untuk mendorong keterlibatan mahasiswa dan generasi muda dalam memperkuat perhatian terhadap sektor pertanian, kesejahteraan petani, serta kemandirian pangan nasional.

Postingan populer dari blog ini

Tipikor Polda Riau, Sebut Bahwa Kasus Proyek Seragam Sekolah Senilai 6 Miliar, Yang Menyeret Nama Disdikbud Rohil, Masih Dalam Proses Penyelidikan

Aksi Damai Mahasiswa, Tokoh Adat, dan Simpul Kemelayuan di Depan Kantor Agrinas Riau

Suku Sakai di Duri 13 Diserang Karyawan PT SIS, Konflik Kebun Sawit Sitaan Satgas PKH Memanas